 |
Catatan kecil dari Tokyo
Anda nomer yang ke
sebagai tamu saya |
Selamat datang di Home Page Lilik. Di Tokyo sekarang musim dingin.
Saya telah menikah bersuamikan orang Jepang, telah dikaruniai seorang putra
yang sehat. Saya dari Surabaya ke Tokyo mulai tahun 1992 sampai sekarang
ini. Oleh karena suami saya membuat Home Page jadi saya bersama pula untuk
membuat disebelahnya. Catatan kecil ini saya ambil dari pengalaman sehari-hari
selama tinggal di Tokyo. Jika Anda punya mesage silahkan mengisi buku tamu
atau E-mail.
Pulang ke kampung halaman
Kami sekeluarga baru pulang dari Surabaya, banyak kenangan yang tidak terlupakan baik suka maupun duka, kota Surabaya juga banyak perubahannya.
Banyak sekali perubahan dikampung, tetanggaku banyak pendatang baru yang takkukenal. Sebagian orang yang lama sudah pada pindah. Begitu juga dengan keluarga ku sendiri, orang tua yang paling dekat denganku, sudah seperti orangtuaku sendiri telah meninggalkanku untuk selamanya. seperti almarhum Pakde Tahal, Bumah, Cikyat namamu tak akan terlupakan.
Di Surabaya banyak sekali polusinya, baik itu polusi kendaraan maupun pabrik. Sungaipun tidak terawat dengan bersih banyak sampahnya padahal air tsb diminum, saya jadi sedih jika memikirkannya. Dulu Surabaya sangatlah indah dan bersih.
Kembali dari Surabaya anakku akhirnya sedikit bisa berbahasa Indonesia, setelah begaul lama dengan mereka, dan mulai banyak bicaranya. Waktu pertama kali datang di Surabaya diam dan kurang begitu senang karena terbentur bahasanya. Suamipun turut senang melihat ada perubahan pada anak kami yang sudah bisa bicara bahasa Indonesia.
Waktu di Surabaya aman-aman saja alhamdulillah ngak ada kerusuhan seperti di daerah lainnya. Waktu itu ada berita penting yaitu penggantian Presiden baru, Gusdur telah diganti Megawati Sukarno putri.
Alhamdulillah bisa ketemu keluarga semua, rasanya tidak ingin berpisah dengan mereka tapi apaboleh buat kami harus kembali ke Jepang. Kapan-kapan kami akan kembali ke Indonesia dan berjumpa lagi. (24-08-2001) Foto keluargaku
Origami
Yaitu seni melipat kertas, di Jepang sangat terkenal sekali dengan permainan ini karena bisa dibuat degan bentuk yang bermacam-macam seperti bentuk binatang, bunga dll.
Saya sendiri sangat senang sekali bermain melipat kertas ini bersama anak saya yang masih sekolah di TK, kami saling belajar membuat yang lucu-lucu dan mudah.
Jika ada orang yang sakitnya lama sekali sampai diopname, dan supaya cepat sembuh maka sebelum pergi ke rumah sakit dibuatkan origami yang berbentuk burung disebut: Zuru banyak sekali jumlahnya 1000 buah bahasanya: Senbazuru origami seperti ini sudah merupakan kepercayaan bagi orang Jepang waktu jamannya kakek nenek kami jaman dulu sekarang jarang sekali orang yang membuatnya.Foto origami
Di sekolahan taman kanak-kanak juga diajarkan seni melipat kertas ini,karena suatu bagian yang terpenting dalam pelajaran.Anakku sendiri bisa membuatnya seperti: piano, kursi, kelinci, kursi.Bermain origami ini sangat menjenangkan sekali lho.(29-04-2001)
Hana
Nama anak saya yang artinya "bahagia" dalam arti Islamnya,untuk bahasa Jepang artinya "bunga". Lahir pada tanggal 31 Januari 2000, dengan berat badan 3872gram, wanita.
Melahirkan di Tokyo sangatlah repot sekali ngak ada yang membantu semua dikerjakan sendiri ngurus sibayi dan urusan rumah tangga,kadang di bantu suami kalau waktu libur kerja. Tidak seperti di Indonesia banyak yang membantu mulai dari tetangga sampai keluarga sendiri kalau ngak bisa ambil pembantu. Akhirnya aku terbiasa dengan pekerjaan seperti ini yang serba sendiri. Aku sangatlah senang sekali karena anak-anakku lucu dan manis.
Foto Hana(10-06-2000)
Musim Panas
Musim panas di Tokyo hampir sama panasnya di Indonesia,
tapi disini sangat menarik sekali dan banyak perbedaannya, lain diwaktu musim semi yang lalu.
Sekolahan pada libur semua dan untuk kantorpun ada liburan musim panas yang cuma seminggu lamanya, banyak sekali kegiatan yang mereka kerjakan pada waktu itu.
ada yang bertamasya keluar negri, ada juga yang pulang kampung, ada yang kamping dekat sungai sambil mancing dan lain-lain, karena liburan panjang cuma waktu itu saja bagi anak sekolah.
Aku yang paling senang di waktu musim ini karena ada Matsuri(pasar malam begitulah) banyak sekali yang kulihat, anak-anak kecil, dewasa dan orang tua mereka pakai baju kimono musim panas sangat lucu dan bagus dilihat. Dimatsuri itu ada yang berjulan makanan, minuman, jual mainan juga ada orang asing yang memperkenalkan negrinya dengan cara berjualan makanan pula, waktu itu juga ada pertunjukan tari-tarian dan karaoke, taklupa aku dan anakku ikut menari bersama dengan mereka.
Pada waktu panas seperti ini yang paling repot masakannya, karena menunya juga berubah, di Jepang ada Somen (mie warnanya putih sekali dan halus, kalau mau makan juga harus di rendam es dulu, untuk rasanya pakai sup yang asin dan terasa ikan).Aku suka sekali dengan somen ini karena enak dan mudah dicerna didalam perut, ngak berat seperti makan nasi.
Tak lupa pula rumahku selalu tersedia sambal pedas, seperti di Indonesia. Suamiku suka sekali masakan Indonesia yang terasa pedas jadi kami begitu sama-sama cocok ngak ada masalah dalam hal makanan yang terasa pedas. Sayur asam, sayur lodeh, dan rendang adalah kesukaan keluarga kami. Orang Jepang sendiri kalau pingin masakan yang pedas, mereka beli kimuci(acar korea yang rasa pedas).
Kalau lagi mengandung pada cuaca panas seperti ini rasanya badan capek sekali dan malas untuk mengerjakan sesuatu. Tapi aku berusaha untuk bisa santai menikmati musim panas dan menikmati rujak manis yang menjadi kebiasaanku waktu di Indonesia.
Tak terasa panas yang sangat menjengat sekali selama 2 bulan ini akan meninggalkanku, hari demi hari cuaca berganti dengan begitu cepatnya. Aku merasa kesepian jika panas telah berlalu karena cuaca dingin yang akan menggantinya.(22-09-1999)
'Sakura'
Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba saatnya, bunga sakura merekah dengan
indahnya. 'Hanami' artinya melihat bunga sakura, di Tokyo orang-orang pada
pergi ketaman untuk melihat bunga sakura, tidak ketinggalan sayapun turut
serta.
Foto Hanami
Hari pertama saya sekeluarga pergi ke taman Hikarigaoka di Nerima-ku, ditaman
banyak sekali yang kita jumpai dan dilihatnya: mulai dari anak kecil sampai
orang dewasa juga kakek, nenek semua pada bergembira melihat bunga sakura
sambil menikmati makanan yang mereka bawa, ada yang masak makanan ditempat
itu juga,ada yang berkaraoke, minum-minuman keras yang sudah merupakan
adat di Jepang, dan anak-anak pada bermain dengan senangnya, main musik
dll. hampir semua taman yang kita jumpai sama keadaannya waktu sakura.
Maklum cuma setahun satu kali bisa melihat bunga sakura, jadi kalau kita
ngak melihatnya sangat menyesal sekali deh!, di Jepang sangat terkenal
sekali yang namanya 'Hanami' itu.
Bunga sakura tidaklah lama berkembang terus, cepat sekali bungannya runtuh
dan berganti daun yang baru bersemi lagi, di tahun yang akan datang bunga
sakura baru bersemi lagi, makanya kalau ngak cepat-cepat melihat nanti
sudah berubah jadi daun semua.
Hari kedua saya bersama teman Indonesia pergi lagi 'Hanami' tapi di Saitama
tempatnya, waduh senang sekali bisa melihat sakura bersama teman Indonesia.
Musim sakura bersemi sepertinya hidup baru lagi, karena semua dikerjakan
pada bulan ini seperti masuk sekolah ajaran baru, pindahan rumah dll. Daun
sakura bisa dipakai untuk bungkus kue basah 'sakura moci' yaitu kue dari
beras ketan yang isinya kacang merah manis sekali rasanya, hampir sama
dengan di Indonesia daun pisang untuk kue 'koci-koci' cuma isinya di ganti
dengan kelapa parut yang manis rasanya.
Bunga sakura banyak sekali jenisnya: Yaezakura, Oshimazakura, Shidarezakura,
yang lebih terkenal bunganya Someiyoshino. Kira-kira ada 200 macam bentuk
bunga sakura mungkin lebih dari itu saya kurang tau, inilah sedikit cerita
mengenai bunga sakura di Jepang yang saya tau.(08-04-1999)
'Lobak' Bahasa
Jepangnya Daikon
Waktu masih tinggal di Surabaya
Indonesia saya tidak suka sekali dengan sayuran yang bernama:'lobak', karena
rasanya tidak enak juga baunya yang kurang sedap. Tapi sekarang saya sangat
suka sekali dengan sayuran tsb. Ternyata di Jepang sayur lobak sangat disukai
oleh masarakat Jepang dan sangat favorit sekali.
Foto daikon
Saya ada sedikit pengalaman cara mengolah sayur lobak supaya lezat dimakan
dan cepat matang, sebelum diolah jadi masakan yang lainnya. Pertama lobak
dikupas dan dipotong-potong lalu dicuci bersih, terus direbus dengan air
sisa cucian beras sampai matang. terus dicuci bersih untuk menghilangkan
sisa air beras tsb. setelah itu baru kita memasaknya lagi dengan selera
kita, yang lebih enak dimasak pakai kuah dan ayam,karena saya sering memasaknya
dengan cara tsb. Tidak usah digoreng karena tidak cocok nantinya.Silahkan
mencoba kalau mau dicoba pasti sip! deh, dengan pengalaman yang saya dapat
ini akhirnya sayur lobak menjadi kesukaanku. Aku sangat berterimakasih
sama tante sebelah rumahku yang telah mengajariku cara memasak sayuran
lobak.(28-3-1999)
Perpustakaan
Dekat tempat tinggal saya ada perpustakaan besar yang mana tidaklah sepi
dari pengunjung, setiap hari banyak yang datang untuk meminjam atau cuma
membaca ditempatnya. Perpustakaan ini telah menjediakan banyak sekali buku
bacaan mulai dari buku cerita anak-anak, novel, majalah, tak lupa kaset
tape, vidio, musik disk. Pokoknya serba lengkaplah. Saya sangat beruntung
sekali karena bisa mendapatkan buku bacaan yang berbahasa Indonesia seperti
novel dan majalah Kartini, juga bacaan yang lainnya.
Dengan adanya berita mengenai perpustakaan ini langsung saya kasih tau
keteman yang saya kenal waduh mereka sangat gembira sekali mendengar kabar
ini, langsung merekapun ikut meminjamnya. Buku-bukunya banyak sekali dari
manca negara. Bagi orang yang warga negara asing tidaklah susah untuk mendapatkan
buku disini. Saya mengucapkan banyak Terima-Kasih pada perpustakaan yang
mengelolahnya. Saya selalu setia mengunjungimu perpustakaan OK. Tempat
perpuskaannya di Hikarigaoka. (16-03-1999)
Lebaran
19-1-1999 kami sekeluarga menjalankan sholat idul fitri tempatnya di Meguro
Tokyo namanya Balai Indonesia ( Sekolahan Indonesia ) kami sangat senang
sekali bisa menjalankannya walaupun jauh dari Tanah Air sendiri, karena
situasinya terasa hangat dan rasa kekeluargaan yang kita miliki seperti
di negeri sendiri tidaklah berubah. Pagi-pagi sekali sudah bangun sebelum
matahari terbit dan cuacanya sangat dingin waktu kami berangkat ke Meguro.
Di stasiun kami ketemu teman sesama warga Indonesia dan mereka juga pergi
bersama kita di Balai Indonesia.
Foto lebaran
Waktu berjalan bersama-sama seperti karnaval he...he habis banyak sekali
orangnya seperti berjalan di Gajah Mada Plaza diJakarta.
Waktu di Balai Indonesia juga ada bazar yang berjualan masakan Indonesia
khusus makanan yang disajikan untuk lebaran, waduh hatiku sangat terharu
tak kuduga aku bisa berlebaran seperti di tanah kelahiranku sendiri kenangan
ini tidak bisa kulupakan, karena anak dan suamiku turut serta berlebaran
dan merasakan hikmahnya seorang Islam.
Banyak sekali pendatang dari luar kota Tokyo waktu lebaran itu.
Waktu menjalankan Puasa Ramadhon saya agak binggung mengenai jam berbuka
puasa tanya teman sana sini akhirnya sama suami saya diberitahu melaui
Intrnet lebih mudah dan praktis, waduh ...saya memang ngak terpikirkan
sampai ke Internet maklum repot sama anak terus sih.
Teman-teman kalau ada berita yang menarik kasih tau yah! melalui Email
juga ngak apa-apa kok.(13-3-1999)
Perkawinan
Selama 7 tahun tinggal di Tokyo semakin bertambah perkawinan antar warga
negara Indonesia dan Jepang, dibanding waktu saya baru pertama kali datang.
Di tempat kotamadya saya juga banyak orang dari Indonesia yang juga berkeluarga
seperti kami, kami saling mengenal dan akhirnya menjadi teman baik. kadang
kami saling bertemu dan cerita pengalaman masing-masing tentang perkawinan
Internasional.
Ternyata perkawinan lain bangsa tidaklah mudah masalahnya tapi juga sangat
menarik gaya hidup kita. Untuk suka dan senangnya kita bisa melihat fariasi
gaya hidup kita masing-masing yang sangat berlainan mulai dari adat dan
budaya yang kita miliki kadang kami saling menemukan keunikan dalam masalah
yang akhirnya kita sesama suami saling memberi dan menerima pengalaman
untuk kita pelajari bersama.
Untuk susah dan tidak enaknya kami saling terbentur bahasa dan akhirnya
menimbulkan masalah yang kecil menjadi besar, akhirnya kami saling berkata
satu dua kata patah dan akhirnya mengerti dan kami saling tertawa. Yang
lebih menjengkelkan kalau saya lagi berjalan keluar waduh sepertinya dikejar
setan karena melihat tulisan kanji dimana-mana, dan saya ngak ngerti sama
sekali apa artinya, tapi semakin lama pengalaman yang begituan sudah tidak
menjadi momok bagi saya, karena tinggal dimana-mana sama saja ada susahnya
saya pikir.(12-3-1999)